Minggu, 07 Juli 2013

makalah PSI kelompok 2 (dinamika islam di dunia)

DINAMIKA STUDI ISLAM DI DUNIA
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pengantar Studi Islam
Dosen Pengampu: M.Rikza Chamami M.Si



Disusun oleh:
1.      Alifa Zaky Ghozali                (093111021)
2.      Reti trianasari                        (123911092)
3.      Rizka Fitriyani                       (123911095)
4.      Sabrina Kartikawaty              (123911099)
5.      Hesti Fitri Umami                  (123911119)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013

I.                   Pendahuluan
Islam merupakan agama Allah yang diturunkan melalui  Nabi Muhammad  SAW. Dengan Al-qur’an sebagai pedomannya untuk mengarahkan kepada seluruh umat manusia ke jalan yang sebenarnya yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Islam mengajarkan kehidupanyang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran dalam pengenbangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang  dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, mengembangkan kepedulian social, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia, dan sikap-sikap positif  lainnya.

Beberapa alasan tersebut di ataslah yang mungkin menyebabkan orang-orang barat tertarik untuk mempelajari islam, baik budaya, maupun ilmu pengetahuannya. Sehingga kebudayaan islam di dunia berkembang menjadi pesat.  

II.                Rumusan Masalah
a.       Bagaimana studi islam di Indonesia ?
b.      Bagaimana dinamika studi islam di Timur ?
c.       Bagaimana studi islam di Barat ?

III.             Pembahasan
A.  Pendidikan Islam di Indonesia        
Pendidikan Islam di Indonesia telah dimulai sejak masuknya Islam ke Indonesia. Mengenai tentang dimulainya pendidikan islam di Indonesia terdapat beberapa teori tentang ini. Pertama adalah “teori India” yang berpendapat bahwa islam berasal dari India. Di antara sarjana Belanda yang berpendapat bahwa kedatangan Islam barasal dari India, adalah Pijnappel dari Universitas Leiden, yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar.
                        Pendapat berikutnya menyatakan bahwa Islam di Indonesia berasal dari Arab. Teori ini disebut dengan “teori Arab”. Teori ini juga didukung oleh sejumlah sarjana di antaranya Crawfurd, Niemann, de Hollander, dan yang paling gigih mempertahankannya adalah Naquib Al Attas. Berkenaan dengan “teori Arab” ini di Indonesia sudah beberapa kali diadakan tentang seminar masuknya Islam ke Indonesia. Seminar Medan tahun 1963 dan seminar Aceh tahun 1978. Kedua seminar itu menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah dan langsung dari Arab.
                        Semua teori itu masih dalam proses perkembangan dan bahkan tidak mustahil ada teori lain yang muncul belakangan. Pembahasan tentang teori masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan hanya garis besarnya saja, tidak terinci dan mendetail. Hal ini disebabkan karena fokus utama adalah tentang pendidikan Islam yang telah dimulai sejak masuknya Islam ke Indonesia. Karena pendidikan Islam itu telah dimulai sejak masuknya Islam ke Indonesia, tidak boleh tidak mestilah disinggung tentang masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini bermakna bahwa apabila Islam itu telah masuk ke Indonesia pada abad ke-8 M, berarti pendidikan Islam telah dimulai sejak saat itu.
                        Kaitannya dengan pendidikan Islam perlu dicari esensi tentang pendidikan. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia ke arah yang dicita-citakan. Dengan demikian, pendidikan Islam itu adalah pembentukan manusia sessuai dengan tuntutan Islam. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh para mubaligh awal yang datang ke Indonesia baik sebagai mubaligh semata maupun pedagang yang berperan sebagai mubaligh adalah kegiatan yang terkait dengan kegiatan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya islam ke Indonesia, dan dengan demikian pula pendidikan Islam telah memainkan peranannya dalam proses Islamisasi di Indonesia.
                        Pada tahap awal pendidikan Islam di Indonesia berlangsung secara informal. Kontak-kontak person antara mubaligh dan masyarakat sekitar yang tidak terancang terstruktural secara jelas dan tegas. Dalam hal ini tidak ada jadwal waktu tertentu, tidak ada materi tertentu, dan tidak ada tempat yang khusus. Pergaulan keseharian yang di dalamnya mengandung unsur pendidikan, seperti keteladanan yang diberikan oleh para mubaligh merupakan ketertarikan masyarakat sekitar untuk memeluk agam Islam. Setelah pendidikan informal itu berlangsung, maka muncullah pendidikan formal. Yaitu pendidikan yang terencana, punya waktu, tempat, dan materi tertentu.[1]
                        Kajian tentang pendidikan Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama sejak mulai tumbuhnya pendidikan Islam padda awal masuknya Islam ke Indonesia sampai munculnya zaman pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Fase kedua sejak masuknya ide-ide pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, dan fase ketiga sejak disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No.2 tahun 1989 dan dilanjutkan dengan UU No.20 tahun 2003).[2]
                        Pendidikan memiliki nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Pendidikan itu juga berupaya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa tersebut. Sebab lewat pendidikan akan diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa tersebut, karena itu pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, dan how to do, tetapi yang amat terpenting adalah how to be, bagaimana supaya how to be terwujud, maka diperlukan transfer budaya dan kultur.[3]

           Berdasarkan kedudukan Islam di Indonesia, ada kajian historis seperti yang diungkapkan terdahulu bahwa pendidikan Islam di Indonesia, telah berlangsung sejak masuknnya Islam ke Indonesia.Pendidikan itu pada tahap awal terlaksana atas adanya kontak antara pedagang atau mubaligh dengan masyarakat sekitar, bentuknya lebih mengarah kepada kependidikan informal.Setelah berdiri kerajaan-kerajaan Islam tersebut berada di bawah tanggung jawab kerajaan Islam.
                        Masuknya kaum penjajah Barat, memisahkan pendidikan Islam, dengan pendidikan Barat. Pendidikan Barat berada pada alur dan jalur binaan pemerintah dengan fasilitas yang memadai, sedangkan pendidikan Islam terlepas dari tanggung jawab pemerintah kolonial. Kenyataannya membuat ada duagenerasi yang berbeda orientasinya. Pertama, pendidikan Islam yang ketika itu dilaksanakan di pesantren orientasinya keakhiratan, kedua, pendidikan Barat yang orientasinya adalah keduniaan.
                        Sebetulnya perbedaan yang mencolok bukan hanya terletak kepada perbedaan kedua orientasi itu, tetapi lebih dari itu pemerintah kolonial Belanda tidak menempatkan pendidikan Islam sebagai bagian dari perhatian mereka. Tidak memasukkan pendidikan Islam dalam sistem pendidikan kolonial Belanda, bukan hanya itu bahkan pendidikan agama pun tidak diberikan di sekolah-sekolah pemerintah.
                        Setelah Indonesia merdek, BPKNIP (Badan Persiapan Komite Nasional Indonesia Pusat) mengusulkan kepada pemerintah agar memasukkan mata pelajaran pendidikan agama ke sekolah-sekolah. Selain dari itu badan ini juga mengusulkan agar madrash dan pesantren supaya mendapat perhatian dan bantuan nyata dengan berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah.
                        Pendidikan Islam dalam uraian ini dapat dikemukakan pengertiannya dalam tiga hal. Pertama, sebagai lembaga, kedua, sebagai mata pelajaran, dan ketiga, sebagai value.[4]
peranan kerajaan-kerajaan Islam dalam mendorong berkembangnya pemikiran Islam dapat diambil contohnya kerajaan Islam di Sumatera, yaitu Aceh dan kerajaan Islam di Jawa yaitu Mataram.
Peraanan kerajaan Islam di Aceh dalam bidang pendidikan dapat dilihat dalam tulisan Hasjmy “Kebudayaan Aceh dalam sejarah”. Beliau mengemukakan diantara lembaga-lembaga Negara yang tersebar dalam Qanun meukuta Alam ada tiga lembaga yang bidsng tugaasnya meliputi masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan, yaitu:

1.         Balai Setia Hukama
Balai ini tempat berkumpulnya para sarjana, hukama (ahli piker) untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.         Balai Setia Ulama
Balai ini dapat disamakan dengan jawatan pendidikan yang membahas masalah pendidikan.
3.         Balai Jamaah Himpunan Ulama
Balai ini dapat disamakan dengan sebuah studi klub tempat para ulama/sarjana berkumpul untuk bertukar pikiranmembahas masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Kerajaan Islam lainnya yang juga menaruh perhatian terhadap pendidikan Islam, adalah Mataram. Dalam bidang kebudayaan upaya yang dilakukan oleh Sultan Agung adalah mensenyawakan unsure-unsur budayanlama dengan islam, seperti:
1.         Gerebeg, disesuaikan dengan hari raya idul fitri dan maulid nabi. Terkenal ada gerebeg poso (puasa) dan gerebeg maulid.
2.         Gamelan Sekaten, yang hanya dibunyikan pada gerebeg mauled, atas kehendak Sultan Agung dipukul di halaman masjid besar.
3.         Perhitungan tahun saka (Hindu) pada mulanya berdasarkan perjalanan matahari, tahun saka yang telah kerangka 1555saka,tidak lagi ditambah berdasarkan perhitungan matahari, melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan tahun hijriah.
C.        LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM AWAL DI INDONESIA.
Ada beberapa lembaga pendidikan Islam awal yang muncul di Indonesia.
1.         Masjid dan Langgar
Masjid fungsi utamanya adalah untuk tempat shalat. Selain dari fungsi utama masjid dan langgar difungsikan untuk tempat pendidikan.
2.         Pesantren
Inti dari pesantren itu adalah pendidikan ilmu agama, dan sikap beragama. Karenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama.
3.         Meunasah, Rangkang, dan Dayah
Meunasah berasal dari kata madrasah, tempat belajar atau sekolah. Rangkang adalah tempat tinggal murid, yang di bangun di sekitar masjid. Dayah adalah sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan mata pelajaran agama yang bersumber dari bahasa Arab, tauhid, tasawuf, dan llain-lain, tingkat pendidikannya sama dengan SLTA.
4.         Surau
Surau diartikan tempat umat islam melakukan ibadahnya (bersembayang, mengaji, dan sebagainya).[5]
Pendidikan Islam pada zaman penjajahan Jepang
Kehadiran jepang ke Indonesia terhitung amat singkat, yakni hanya 3,5 tahun. Namun waktu yang singkat ini tidak berarti bahwa jepang tidak member pengruh terhadap perkembangan pendidikan Islam. Lamanya waktu, sebagaimana yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia, tidak menjadi jaminan bangsa Belanda telah berbua banyak terhadap pendidikan Islam. Sebaliknya jepang yang berada di Indonesia dalam waktu singkat telah memberikan pengaruh pendidikan Islam sebagai berikut.
Pertama, umat Islam merasa lebih leluasa dalam mengembanhkan pendidikannya, karena berbagai undang-undang dan peraturan yang dibuat pemerintah Belanda yang sangat deskriminatif dan sangat membatasi itu  sudah tidak diberlakukan lagi. Umat Islam pada zaman kolonial Jepang pemperoleh peluang yang memungkinkan dapat berkiprah lebih luluasa dalam bidang pendidikan.
Kedua, bahwa  sistem pendidikan Islam yang terdapat pada zaman Jepang pada dasarnya masih sama dengan system pendidikan Islam pada zaman Belanda, yakni disamping sistem pendidikan pesantren yang didirikan kaum ulama tradisional, juga terdapat system pendidikan klasikal sebagai mana yang terlihat pada madrasah, yaitu system pendidikan Belanda yang muatannya terdapat pelajaran agama.[6]
Pendidikan Islam pada zaman orde lama
Keadaan pendidikan iIslam pada zaman orde lama belum mendapatkan perhatian yang sungguh-sumgguh dari pemerintah. Adanya perlawanan ideologis politis dari sebagian elite Islam sebagai mana tersebut diatas telah menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak suka pada pemerintah terhadap umat Islam. Namun demikian, adanya sebagian elite muslim yang berpandangan progresif,, modern, dan nasionalis, terutama kaum muslim yang telah tersentuh oleh pendidikan dan pengalaman dunia modern, misalnya tokoh dan intelektual muslim yang mendapatkan pendidikan dari negara  maju telah mampu melakukan komunikasi yang baik dengan pemerintah. Dengan duduknya elite muslim yang progresif dan sejalan dengan visi, misi, dan tujuan pemerintah menyebabkan adapula usaha-usaha yang dilakukan pemerintah orde lama terhadap kepentingan pendidikan Islam, dengan penjelasan sebagai berikut.
Pertama, dengan mendirikan Departemen Agama. Penbinaan pendidikan agama setelah kemerdekaan Indonesia dilakukan secara formal institusional. Urusan keagamaan dan pendidikan agama yang sebelum kemerdekaan ditangani oleh kantor agama yang pada masa penjajahan Belanda bernama resmi kantor voor Inlandshe Zaken, dan pada pada masa penjajahan Jepang bernama “shumuka”, setelah Indonesia merdeka berubah nama menjadi Kementrian Agama dan diresmmikan pada 3 Januari 1946. Kementrian Agama ini juga mengurusi bidang pendidikan yang berhubungan dengan agama.
Kedua, dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan berupa peraturan dan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan pendidikan agama. Dalam hal ini, pemerintah orde lama mengelurakan undang-undang nomor 12 tahun 1950 yang didalamnya mengatur pendidikan agama di sekolah negeri baik yang ada di Kementrian Agama, maupun Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada Bab XII pasal 20 undang-undang ini misalnya dinyatakan bahwa dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah akan mengikuti pelajaran tersebut atau tidak. Selain itu, dijelaskan pula tentang cara menyelenggarakan pengajara agama di sekolah negeri yang diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan  bersama-sama dengan Menteri Agama.
Ketiga, memberikan perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren. Karena pesantren dan  madrasah memberikan pendidikan agama, maka pesantren dan madrasah diserahkan pembinaan dan pengembangannya kepada Departemen Agama. Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab ini, maka Departmen Agama menetapkan beberapa kebijakan sebagai berikut: (1) member pelajaran agama di sekolah negeri dan partikulir; (2) member pengetahuan umum di madrasah; dan (3) mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Kebijakan Departemen  Agama ini dimanfaatkan oleh masyarakat Muslim Indonesia untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Keempat, dengan memberikan bantuan fasilitas dan sumbangan material kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti mengangkatguru agama, membantu biaya pembangunan madrasah, bantuan buku-buku pelajaran, me-negeri-kan madrasah, dan bantuan lainnya, walaupun jumlahnya masih amatterbatas sesuai dengan kemampuan ekonomi pada waktu itu.[7]
Pendidikan Islam pada zaman orde baru
Faktor-faktor pendukung kemajuan pendidikan Islam adalah sebagai berikut. Pertama, semakin membaiknya hubungan dan kerja sama antara umat Islam dan pemerintah. Kedua, semakin membaiknya ekonomi nasional. Pada zaman Pemerintah orde baru, usaha pembangunan ekonomi menjadi primadona dan pilihan utama. Ketiga, semakin stabil dan amannya pemerintahan. Pada zaman orde baru, Indonesia  dikenal sebagai Negara yang aman dan stabil di kawasan Asia Tenggara.[8]
Pendidikan Islam pada era Reformasi
Keadaan pendidikan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, kebijakan tentang pemantapan pendidikan Islam sebagai bagian dari system pendidikan nasional. Kedua, kebijakan tentang peningkatan anggaran pendidikan Islam. Ketiga, program wajib Sembilan tahun. Keempat, penyelenggaraan sekolah bertaraf nasional (SBN), internasional (SBI). Kelima, kebijakan sertifikasi guru dan dosen bagi semua guru dan dosen baik negeri maupun swasta, baik guru umum maupun guru agama, baik guru yang berada dibawah Kementerian Pendidikan Nasional maupun guru yang berada di Kementerian Agama. Keenam, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK/tahun 2004) dan Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan (KTSP/2006). Ketujuh, pengembangan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru (teacher centris) melalui kegiatan teaching, melainkan juga berpusat pada murid (student centris) melalui kegiatan learning (belajar) dan research (meneliti) dalam suasana yang partisifatif, inofatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (paikem). Kedelapan, penerapan menejemen yang berorientasi pada pemberian pelayanan yang baik dan memuaskan kepada para pelanggan (to give good service and satisfaction for all custumers) sebagai mana yang terdapat pada konsep Total Quality Menejement (TQM). Kesembilan, kebijakan mengubah nomenklatur dan sifat madrasah menjadi sekolah umum yang berciri khas keagamaan.[9]

B.     Studi Islam Di Barat

Perkembangan studi Islam di dunia terutama di barat terjadi karena adanya kontak dengan dunia muslim, salah satunya yakni lewat kontak perguruan tinggi. Selain itu juga dengan adanya penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab kedalam bahasa Latin. Berkat penyalinan karya-karya manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah di Barat. Dan masih banyak faktor lain yang mendukung perkembangan studi Islam ke dunia Barat.

Pembahasan tentang bagaimana studi Islam di Negara non-Muslim dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1.         berdasarkan dosen yang mengajarkan studi Islam
2.         berdasarkan perguruan tinggi, dan
3.         berdasarkan pusat studi.

Berdasarkan dosen yang mengajar studi Islam di Barat, ada tenaga pengajar yang menganut agama Islam (muslim), dan tenaga pengajar non-Muslim. Mereka non-Muslim ini lebih dikenal dengan sebutan orientalist, dari kata orient yang berarti timur, dan list berarti ahli. Maka secara bahasa orientalist adalah ahli ketimuran. Maksud timur di sini adalah Islam. Maka ringkasnya, orientalist adalah ahli keislaman. Para orientalist ini disebut sebagai orang yang mengetahui Islam secara kognitif atau aqliyah (understanding), tidak pernah sampai pada tingkat efektif atau qalbiyah (merasakan), apalagi pada tingkat phsikomotorik atau fi’liyah/’amaliyah.

Sebelum muslim memasuki universitas-universitas di Barat, dan belum ada muslim yang dalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa Eropa, ahli Islam di Barat didominasi para orientalis. Maka buku-buku dan artikel-artikel tentang pemikiran-pemikiran dibidang Islam pun didominasi dan merupakan hasil pemikiran para orientalis. Seiring dengan adanya sarjana muslim yang sekolah di Barat dan menulis dengan bahasa Barat tentang Islam, maka alhi keIslaman pun muncul dari sejumlah muslim. Pada akhirnya banyak diantara sarjana Muslim ini yang dalam bahasa Barat (Inggris, Perancis, Jerman, Yunani, Belanda, dan bahasa barat lain).[10]

Adapun dari sisi kelembagaan/institusi, studi Islam di negara-negara non-Muslim tidak selalu dengan nama Islamic Studies, tetapi dengan berbagai nama, semisal Middle East Studies, Near Eastern Studies, Religious Studies, Comparative Religion dan lain-lain. Di samping itu ada juga beberapa lembaga (pusat studi/center), baik yang berafiliasi dengan universitas maupun tidak, yang menawarkan dan menyediakan studi Islam. Diantaranya:

a.         Islamic Society of North America
b.         The Oxford Centre for Islamic Studies, Inggris
c.         Centre for Islamic Law and Society di Melbourne Law School, the University of Melbourne Australia.
Selanjutnya pembahasan tentang sejarah dan dinamika perkembangan studi Islam di negeri Barat yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia beserta beberapa tokoh yang memiliki peran penting. Studi Islam dikembangkan di negara-negara Barat, dan juga di Timur Tengah, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Justru karena nilai lebih dan kekurangannya inilah, hal yang paling penting adalah bagaimana persoalan ini tidak dipertentangkan secara dikotomis. Aspek lebih produktif yang justru penting untuk dikembangkan adalah bagaimana masing-masing lulusannya saling melengkapi satu sama lain. Dengan mengedepankan persamaan dan saling melengkapi satu sama lain, kombinasi keilmuan yang dihasilkan dari lulusan Barat dan Timur Tengah tentu akan lebih baik dan menjanjikan dari pada saling menjelekkan dan mencari kelemahan masing-masing.

Ditinjau dari perspektif sejarah, studi yang dilakukan orang Indonesia di Barat sudah cukup lama. Namun demikian, fokus studi yang dilakukan belum menyentuh secara langsung dalam bidang kajian Islam. Studi di Barat pada masa itu lebih dilatar belakangi oleh kepentingan politis kepentingan pemerintahan Belanda. Dengan studi di negara Belanda, mereka diharapkan akan menjadi pengikut setia Belanda, dan mengembangkan rasa kesetiaannya ini kepada masyarakat patronnya. Sebab, kemajuan pendidikan yang mereka peroleh merupakan bentuk kebaikan yang diberikan oleh pemerintah Belanda, sehingga mereka tidak akan menghianati pemerintahan yang tekah membiayai, lalu mengangkatnya sebagai pegawai pemerintahan. Sebagai contoh Raden Mas Ismangoen Danoewinoto, mahasiswa Indonesia pertama yang melakukan studi di Barat, yaitu di Leiden Belanda.

Seiring dengan perkembangan zaman, studi ke negara-negara Barat terus berkembang. Studi yang dilakukan oleh orang Indonesia mengambil konsentrasi bidang ekonomi, politik, pemerintahan dan belum ada yang mengambil fokus khusus studi Islam. Fokus studi Islam baru mulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Orang Indonesia yang pertama kali yang melakukan studi Islam di Barat adalah  M.Rasjidi. menteri Agama pertama Indonesia ini menamatkan program doktor di Universitas Sorbone Prancis.

Tokoh penting lain yang menjadi generasi awal yang melakukan studi Islam di Barat pasca Rasjidi adalah Harun Nasution. Harun menempuh pendidikan tingginya di Kairo dan di Kanada. Jadi perpaduan antara Timur Tengah dan Barat. Tokoh lain yang memiliki peranan penting dalam studi Islam di Barat adalah A.Mukti Ali. Dalam perjalanan intelektualnya, A.Mukti Ali pernah belajar di Pakistan.dan melanjutkan di McGill University, Montreal, Kanada dengan beasiswa dari Foundation.

Tiga tokoh diatas, yaitu Rajidi, Harun Nasution, dan Mukti Ali, adalah generasi awal sarjana Islam Indonesia yang melakukan studi Islam di Barat. Setelah generasi mereka, muncul puluhan intelektual yang juga menempuh studi Islam di Barat.beberapa dianteranya adalah Nurcholish Madjid, M. Dien Syamsuddin, Thoha Hamim, Akh. Minhaji, dan sebagainya. Para alumni Barat ini mempunya pengaruh dan kontribusi besar dalam studi Islam di Indonesia.
Selain orang-orang Indonesia yang melakukan studi Islam di berbagai Universitas di Barat, aspek penting yang memerlukan perhatian lebih adalah deskripsi studi Islam di negara-negara Barat. Di negara-negara Barat, studi Islam berkembang dengan bervariasi. Misalnya di Chicago University, studi Islam lebih menekankan pada pemikiran Islam, bahasa Arab, naskah klasik dan bahasa-bahasa Islam non-Arab.
Sebenarnya, kajian Islam yang dilakukan di Barat sudah berlangsung cukup lama. Jika mencermati pada dinamika dan perkembangan yang terjadi, studi Islam di Barat semenjak abad ke-19 hingga sekarang ditandai oleh tiga model pendekatan.
1.         Studi Islam dengan pendekatan fisiologis. Pendekatan ini biasa dipergunakan oleh para orientalis generasi awal abad ke-19 dan masih tetap memiliki pengaruh yang kuat diawal abad ke-20. Disini yang mengkaji Islam lebih banyak berasal dari kalangan pakar bahasa dan pakar-pakar ahli klasik. Nilai lebih dari kajian seperti ini adalah keberhasilannya untuk membongkar khazanah pemikiran Islam klasik yang berserakan. Namun pendekatan ini juga memiliki kelemahan, yakni mendapatkan Islam hanya terbatas pada informasi teks saja, sementara sisi-sisi lain Islamyang sesungguhnya jauh lebih luas dan kaya tidak dapat diketahui.

2.         Studi Islam dengan pendekatan ilmiah, pendekatan ini berkembang setelah Perang Dunia kedua. Mereka yang menjadi pelopor adalah dari kalangan ilmuwan sosial. Kalangan ini melihat Islam sebagai masyarakat sistemik sebagaimana masyarakat barat, sehingga kekhasan dan keunikannya yang bersifat kultural tidak tampak oleh mereka.


3.         Islam dengan pendekatan fenomenologi-interpretatif .Belajar dari kelemahan pendekatan sebelumnya, penganjur pendekatan ini memahami Islam,khususnya masyarakat Islam, sebagai sistem simbol yang sarat dengan makna-makna sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri, bukan dari persepsi orang barat atas diri mereka.

Munculnya pandangan yang kurang suka, kritis, atau bahkan sinis terhadap fenomena studi Islam di Barat, dan banyaknya mahasiswa Indonesia yang studi di pusat-pusat kajian Islam di Barat, sebagian dilatari oleh kecurigaan, dan juga kekhawatiran terhadap berbagai dampak negatif yang muncul terhadap umat Islam. Adapun aspek yang dikritik adalah :

Pertama, kajian-kajian tentang islam yang dilakukan di Barat cenderung bersifat “esensialis”, yakni menjelaskan seluruh fenomena masyarakat dan kebudayaan muslim dalam kerangka tunggal dan tidak berubah. Kedua, kajian – kajian islam di barat dimotivasi oleh kepentingan – kepentingan politis. Dan ketiga, kajian – kajian islam di barat merupakan upaya untuk melestarikan “kebenaran – kebenaran” yang dicapai atas nama kehidupan intelektual dan akademis, Padahal, hampir tidak mempunyai kaitan dengan kenyataan yang hidup.

Namun demikian studi  Islam yang dilakukan di Barat juga memiliki berbagai kelebihan.Sebagaimana yamng dituturkan Yudian W asmin, di Barat, mahasiswa menjadi pusat pengembangan, sedangkan dosen hanya mengarahkan. Keseriusan ‘mengobrak abrik’ pustaka merupakan lambang supremasi, yang tercermin dalam tulisan mahasiswa yang memang dilatih untuk berpikir kritis, akurat, dan bertanggung jawab. Kemampuan untuk menggali sumber – sumber di pustaka ini dilengkapi dengan kemampuan empat bahasa: dua bahasa dunia Islam dan dua bahasa Barat. Karena pendekatannya bersifat historis analitis, yang memandang islam sebagai peradaban, bukan sebagai agama, maka hasil penelitian seseorang dianggap relatif, bahkan al-riwayah bi al-lafdz dianggap sebagai plagiat. Publikasi merupakan ukuran  tinggi rendahnya pengetahuan seseorang.

Studi Islam di Barat memang sarat dengan dinamika. Ada nilai  lebih, dan juga kekurangannya. Sebagaimana studi dalam bidang apapun dan dimanapun juga, tidak ada yang sempurna. Semuanya tetap membuka peluang untuk terus menerus diperbaiki dari waktu ke waktu. Namun demikian, harus diakui bahwa studi Islam di Indonesia, khususnya di PTAI, banyak dipengaruhi oleh model dan paradigma yang dikembangkan oleh para alumni Barat.

C.    STUDI ISLAM DI TIMUR
            Studi islam di timur, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Negara Barat yaitu bervariasi dan memiliki karakter masing-masing. Karena dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor kebijakan politik, dinamika sosial budaya, latar belakang pemegang kebijakan pendidikan perkembangan ekonomi, dan berbagai faktor lainnya.
1.         Teheran, Iran
Di Universitas Teheran, Iran ada ruangan khusus yang menyimpan naskah-naskah kuno yang ditulis dalam bahasa Persia oleh para pemikir klasik. Marshal Hudgson mengatakan dalam bukunya, The Venture of Islam, bahwa dalam pemikiran Islam, ada Islam, ada Islamicate, dan ada Islamdom, yaitu kebudayaan Islam setelah berinteraksi dengan berbagai budaya dari negeri-negeri yang kemudian disebut negeri-negeri muslim. Di Universitas Teheran ini, studi islam dilakukan dalam satu fakultas yang disebut Kulliyat Ilahiyat (Fakultas Agama). Di Teheran juga ada universitas Islam Sadiq yang mempelajari Islam dan ilmu umum sekaligus.
2.         Damaskus, Syria
Di Universitas Damaskus Syria, yang memiliki banyak fakultas umum, studi Islam ditampung dalam Kulliatu al-Syari’ah (Fakultas Syari’ah), yang didalamnya ada program studi Ushuludin, Tasawuf, Tafsir, dll. Jadi, pengertian syari’ah disitu lebih luas daripada pengertian syari’ah sebagai hukum Islam, seperti yang ada di IAIN atau UIN.
3.         India
Di Aligarch Universitas India, studi islam dibagi dua. Pertama, Islam sebagai doktrin dikaji dalam Fakultas Ushuluddin yang mempunyai dua jurusan: jurusan Madzhab Ahli Sunnah dan Syi’ah. Kedua, Islam sebagai sejarah dikaji pada Fakultas Humaniora dalam jurusan Islamic Studies yang berdiri sejajar dengan jurusan Politik, Sejarah, dll. Di Jamiah Millia Islamia, New Delhi, Islamic Studies Program berada pada Fakultas Humaniora, bersama dengan Arabic Studies, Persian Studies, dan Politik Science.
4.         Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri pada tahun 445 H/1063 M. [3] Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah  mengajar di sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup hampir dua abad. Yang akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan pada tahun 1258 M.
5.         Cordova
         Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan pembangunan bendungan-bendungan irigasi  di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu, yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya Aelhoud ke Cordova.

6.         Kairawan Nizam al-Muluk di Maroko
          Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di Eropa.
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi Sorbonne (1253  M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
           Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan
7.         Mesir
Panglima besar Juhari Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah  kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan  tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Di Universitas Al-Azhar Mesir, yang imam bagi seluruh Universitas Islam dari segi metodologi  mendekati Islam, paling kurang pada awal-awalnya, studi islam telah berubah bentuk pengorganisasiannya. Al-Azhar sampai tahun 1961 memiliki fakultas-fakultas seperti yang dimiliki IAIN.  Setelah tahun 1961, Al-Azhar tidak lagi membatasi diri pada fakultas-fakultas agama, tetapi juga membuka fakultas-fakultas lain Al-Azhar, disamping ada di Kairo, juga ada di daerah-daerah dan mempunyai program khusus untuk wanita dan laki-laki. Di Kairo sendiri ada beberapa fakultas, yakni Fakultas Ushuluddin, Fakultas Hukum (Islamic Jurisprudence and Law/ Kulliatu al-Syariah wa al-Hukm), Fakultas Bahasa Arab(Faculty of Islamic and Arabic Studies/Kullayah al-Dirasah al-Islamiah) Fakultas Dakwah, Fakultas Tarbiyah, Kulliah al-lughah wa al-Tarjamah (Fakultas Bahasa dan Terjamah), Fakulty of Scince (Fakultas Sains), Fakultas Kedokteran (Faculty of Medicine), Fakultas Pertanian, Ekonomi, Tehnik. Pada fakultas sains terdapat jurusan-jurusan Kimia, Geologi, Microbiologi, Anatomi, Astronomi, Fisika, dan Zoology. Sedangkan pada Fakultas Peternakan terdapat jurusan Peternakan, Ekonomi Pertanian, Industri, Makanan, Genetika, Pertanahan, Insektisida, Holtikultura, dan Masyarakat Pedesaan.
            Di daerah-daerah seperti Al-Suyut ada fakultas Ushuluddin, Dakwah, Syari’ah wa al-Huquq, Bahasa Arab, Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi dan Farmasi. Di Zarkasyi ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Bahasa Arab. Di Tanta ada Fakultas Ushuluddin, Dakwah, Bahasa Arab dan seterusnya.
            Melihat paparan ini dapat kita simpulkan bahwasanya studi Islam di Timur, sebagaimana studi Islam di Barat dan berbagai negara lainnya, juga tidak seragam. Ada karakteristik yang khas dari masing-masing negara, dan juga perguruan tinggi. Hal ini menjadikan kekayaan warna dalam studi Islam di masing-masing lembaga dan negara. Konstruksi semacam ini justru akan semakin memperkaya warna studi Islam.
IV.           KESIMPULAN

Studi islam di dunia baik Indonesia, Negara Barat, maupun Negara Timur terdapat banyak perbedaan. Perbedaan tersebut dikarenakan proses awal masuknya Agama Islam ke berbagai negara islam di dunia yang berbeda.
Studi islam di Indonesia terdapat fase-fase tersendiri. Di antaranya :
1.      Mulai tumbuhnya Islam
2.      Masuknya ide-ide pembaruan
3.      Disahkannya UU sistem pendidikan
Di Indonesia juga terdapat beberapa masa yang mempengaruhi proses perkembangan studi Islam, di antaranya:
1.      Masa penjajahan Jepang
2.      Masa Orde Lama
3.      Masa Orde Baru
Masa Reformasi Pembahasan tentang bagaimana studi Islam di Negara non-Muslim dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1.  berdasarkan dosen yang mengajarkan studi Islam
2.  berdasarkan perguruan tinggi, dan
3.  berdasarkan pusat studi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan studi Islam di Timur, antara lain: kebijakan politik, dinamika sosial dan budaya dan latar belakang pemegang kebijakan pendidikan perkembangan ekonomi, dan berbagai faktor lainnya.


     
V.                PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun, kami sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dalam segi penyampaian maupun penyusunan makalah ini. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki penyusunan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.





DAFTAR PUSTAKA
Naim, Ngainun, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta, Teras, 2009.
Nasution, Khoiruddin, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta, ACAdeMIA+TAZZAF, 2010.
Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Kencana, 2011.
Putra Daulah, Haidar, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2009.
Putra Daulah, Haidar, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Kencana, 2009.








[1] Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm. 10-13.
[2] Ibid, hlm. 45
[3] Ibid, hlm. 47
[4] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 159-160.
[5] Ibid, hlm. 17-26. 
[6] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 308-309.
[7] Ibid, hlm. 318-322.
[8] Ibid, hlm. 337-340.
[9] Ibid, hlm. 352-359.
[10] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA, 2010), hlm. 93-94.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar